cerpen, cerita pendek, mengarang cerpen

Jangan pernah menyakiti cinta
jika tak mau disakiti karena
cinta
Kisah ini dimulai sejak aku telah beranjak pada usia 14 tahun. Banyak teman-teman
ku yang mencoba mendekatiku. Entah kakak kelas atau adik kelas atau bahkan teman
sebaya. Berawal dari pandang-memandang, ejek-mengejek, pasti itu yang sering
mereka lakukan untuk mendekatiku. Sampai-sampai meminta nomor hpku. Dari
sinilah kisahku dimulai.
Masa-masa yang indah sekarang akan segera musnah. Aku yang akan naik kelas
9, dan kakak kelas yang akan segera lulus membuat aku kesepian. Walaupun di
sekolah aku tak terlihat dekat dengan mereka, tapi entah kenapa aku merasa
kesepian jika tak ada kakak kelas yang bisa membuatku malu, tersenyum, dan
menangis.
“Kak Riko, besok kakak masih masuk sekolah kan kak.?” Tanya ku.
“Iya fi, aku masih masuk sekolah memangnya kenapa..?? takut kehilangan aku yaa.?” Ledek Riko.
“Yehh,, pede amat sih kak..?? siapa juga yang takut kehilangan kakak. Cowok
masih banyak kok, adik kelas juga banyak..” Jawab ku cemberut.
“ Iya-iya, kakak percaya kalo kamu bisa dapetin penggantiku.. tapi aku
cemburu nih..!!!” Aku hanya terdiam.
“ Fi.. jangan panggil aku kakak dong.. nggak asyik! Panggil aja aku Riko.
Okee..?” Tegas Riko.
“Iya deh, aku panggil kamu Riiikoo.. aku mau pulang..!” jawab Afi jutek.
“Kenapa sih kamu itu..?? ya udah ayo kita pulang. Nih pake helm dulu.”
Sesampainya dirumah, Aku langsung pergi ke kamar. dengan cepat aku
mengambil buku catatanku. Aku menulis...
Senin, 14 Mei 2012
Hari ini hari yang buruk tapi mengesankan.. aku ingin
sekali hari ini adalah hari yang panjang,, aku masih ingin bersenang-senang
dengan Kak Riko, aku juga ingin sekali menghabiskan hari ini dengannya. Tapi
sayangnya khayalan itu tak akan terwujud.. hmmm.. kapan yaa aku bisa main
bareng sama Kakakku yang ku sayangg..???
Sekian dulu ya buku harian ku... aku akan menceritakan
kepadamu hal lainnya...
Malam ini kurasa malam yang sepi, ayah dan ibuku belum pulang. Aku hanya
termenung memegang handphone ku, sambil sesekali aku melihatnya. Barangkali ada
yang sms atau telfon, tapi sampai mataku memerah dan juga kantuk yang tak bisa
diajak kompromi. Aku memutuskan untuk tidur.
“Afii...!!! bangun sayangg.. udah pagii cepetan mandii..”
“I.. iiyaa bu...!!!” Afi menjawab
dengan nada lirih, dengan tangannya meraih selimut dan melipatnya.
Setelah mandi dan sarapan aku berangkat sekolah diantar oleh ayahku. Aku
berjalan perlahan dengan memandang sekelilingku, wajahku tampak sama sekali tak
ceria. Mataku hanya tertuju pada kelas 9, dalam hatiku sungguh tak merelakan
kakak kelasku lulus. Tiba-tiba ada teriakan seorang anak laki-laki yang
membuatku terkejut.
“Afiiiiii....!!!!! tunggu akuu...!!!!!!” Aku menoleh
dengan raut wajah yang heran, dan ternyata dia adalah Riko. Wajahku yang sebelumnya
sedih, kini berubah menjadi senyuman yang indah. Aku tak menyangka hari ini
Riko benar-benar masih masuk sekolah, aku kira Riko sudah ke Yogyakarta buat
lanjutin sekolahnya.
“Woiii..!!! pamali pagi-pagi kok adikku tersayang ini udah ngelamun aja.”
“i..ii..a maaf kak Riko ehh maksudku Riko. Untung tadi jantungku nggak
sampe copot. Riko juga pagi-pagi udah bikin orang kaget...!!!” aku menampakkan
senyum manisku. Sedangkan Riko membalas senyumannya itu dengan melambaikan
tangannya. Sepertinya itu adalah akhir pertemuanku dengan Riko setelah Riko
selesai mengurus persyaratan pendaftaran sekolahnya.
Aku merasa Riko sekarang sudah agak berbeda dari hari-hari biasanya. Dulu
dia sering sms, bahkan menanyakan keadaannya setiap saat, mungkin dia sedang
sibuk atau bahkan sudah melupakan aku...???
***
Setelah Riko pindah sekolah dan aku pun juga sudah fokus dengan sekolahku,
secara perlahan aku mulai melupakan Riko begitupula Riko juga melupakanku atau
bahkan sia sudah benar-benar melupakanku. Setelah selesai mengerjakan PR ku aku
mulai iseng-iseng buka Facebook, daripada galau mending facebook’an sama
teman-temanku yang lagi online. Saat aku sedang asyik-asyiknya
berbincang-bincang dengan teman ku melalui jejaring facebook tiba-tiba ada
nomor baru yang menghubungiku. Entah aku tak tau itu siapa tapi setelah aku
tanya-tanya tentang dirinya ternyata dia adalah teman kakak angkat yang aku
sayang yang tidak lain adalah Oky teman Riko. Ternyata dia sudah menyimpan
nomorku sejak lama namun dia tak berani menghubungiku karena dia malu dengan
ku.
Menurutku Oky adalah orang yang cukup asyik malah dia lebih lucu daripada
Riko dia juga pintar dalam bidang pelajaran apapun jadi nggak heran kalau dia
masuk di sekolahan elite yang hanya menerima orang-orang yang IQ nya diatas
rata-rata. Aku bangga sih bisa saling bertukar pendapat dengannya setiap aku
mengalami kesulitan, namun hal yang tak aku sukai darinya adalah dia terlalu
sibuk dengan belajarnya bahkan dia tak menyempatkan waktu istirahatnya untuk
jajan ataupun makan. Dia lebih suka membaca buku di perpustakaan bahkan tak
jarang dia membawa obat mag di kantongnya. Kehidupannya pun jauh dari kasih
sayang orang tua nya.
1 tahun kemudian.....
Berkat motivasi dan dorongan dari Oky kini aku bisa lulus dengan hasil yang
memuaskan. Aku bangga bisa membahagiakan orang tuaku. Walaupun peran mereka
sebagai orang tua tak begitu nampak. Kalian pasti tidak tau atau bahkan penasaran dengan hubunganku
bersama Oky saat ini,, Iya kan..??? dia sekarang sudah menganggapku sebagai
pacarnya dan begitupula aku. Setiap ada liburan panjang dia sering bermain
kerumahku atau mengajakku pergi ke
tempat-tempat yang belim pernah aku kunjungi. (eeeee.. jangan ngeres hlo
teman,, kita pergi bersama ke tempat-tempat yang bermakna menambah wawasan kita,
seperti Taman Pintar, Museum atau tempat lainnya)
Lama aku menjalin hubungan bersama Oky. Kita pun saling mengenal sifat
diantara kita dan kita pun saling memahami setiap perbedaan. Namun setiap
manusia pastilah merasa selalu kurang kurang dan kurang. Maka saat Oky sibuk
dengan sekolahnya aku pun mencari teman baru agar aku nggak selalu kesepian.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, begitulah pepatah mengatakan. Saat aku sedang
membutuhkan seseorang, teman ku yang bernama Dian mulai mendekatiku. Yang
sebelumnya biasa-biasa saja kini setiap aku menyapanya ia selalu tersenyum
kepadaku. Entah mengapa setiap 1 hari nggak smsan sama dia, perasaanku menjadi
gegana, bahkan bisa jadii galau tingkat dewa. Apakah itu yang namanya cinta
monyet...???
Mungkin pilihanku ini di tempat yang salah. Benar-benar salah, namun aku
melakukan ini karena aku kini tak pernah mendapat perhatian dari Oky. Maka kini
aku terima Dian menjadi pacarku tanpa sepengetahuan Oky. Sebenarnya ini
bukanlah tujuan awal ku. Baru pertama kali aku menduakan seseorang, dan karena
baru pertama kali ini disela-sela sendawgurauku dengan Dian terbesit perasaan
gelisah jika seandainya Oky mengetahuinya.
Kebetulan aku termasuk orang yang tertutup jadi sebisa mungkin aku
menyembunyikan hubunganku dengan Oky jadi tak ada yang mengetahuinya. Saat itu
Dian mengajakku untuk pulang bersama.
“Afi.. kelinci kecilku.. ntar mau nggak kalau sekali-kali aku antar
pulang..??”
“gimana yaa... aku malu kalo ntar temen-temenku pada ngejek aku,,”
“owhh.. iya sekarang aku sadar,, sepedaku Cuma sepeda butut, jelek lagii...
nggak kaya sepeda temen-temen ku yang vixion lah, Fu lahh... hembbbb..”
“bukannya gituu... tapii aku beneran takut kalo semua pada tau, kalo temen
ku sih nggak papa,, hla kalo guruku tau...??”
Setelah berdebat akhirnya aku pulang naik bus, sedangkan Dian pulang
bersama temannya. Dia marah dengan ku karena aku tak mau pulang bersamanya. Biarkan
sajalah toh kalo sayang nanti juga baikan sendiri. Ngapain dipikir
pusing-pusing kan masih cinta monyet.
Aku mencintaimu...
Lebih dari kekasihku.. aku mengharapkanmu lebih dari
ini...
Aku mencintaimu...lebih dari kekasihku meski disaat ini
hanya simpananku....
Sesampainya dirumah, aku langsung mencari ponselku, lalu terkejutlah aku
saat ada 6 pesan bekum dibaca. Setelah aku buka pesan tersebut aku baca satu
per satu, ternyata dia adalah Oky dia ganti nomor karena nomor yang dulu udah
masa tenggang. Dia cerita kalau dia lulus dan dia juga minta maaf karena tak
pernah mengabariku sebelumnya. Aku pun dengan santai memaafkannya tapi entah
mengapa kebahagiaan ku mendengar hal itu tak begitu senang malah aku hanya
membalas smsnya cuek. Dia mengira aku marah kepadanya karena dia tak pernah
memberikan kabar. Tapi sebenarnya aku mulai bosan dengannya dan aku lebih
bahagia dengan Dian.
Kini teman-temanku tahu kisah percintaanku yang rumit. Mereka awal-awalnya
menanggapinya dengan santai tanpa reaksi marah, kaget girang atau yang lainnya.
Aku sibuk dengan urusanku sendiri. Aku lebih mementingkan urusanku dengan Dian.
Sampai-sampai sahabatku pun mulai aku lupakan. Ya nggak nglupain sihh,, Cuma
nggak begitu aku pentingkan.
Baru kali ini, dalam kisah hidupku, kisah percintaanku, aku menduakan
bahkan aku mempermainkan cintaku sendiri. Memang cintaku ini begitu rumit, dan
aku tahu pada akhirnya ini akan menyakitkan. Itu semua membuat teman-temanku
beranggapan bahwa aku gadis yang kejam. Aku terlalu memikirkan kepentinganku,
sampai-sampai salah satu temanku menegurku.
“Fi.. ingatlah semua didunia ini ada batasnya.!! Kamu udah mulai lupain
kita.. kamu udah mulai ninggalin kita.. hanya untuk kesenanganmu sendiri.!!!”
“iya aku tau aku minta maaf terus aku harus gimana buat maafin
kesalahanku..??”
“kita nggak minta apapun tapi tolong, rubah sikapmu rubah sifatmu. Aku
ingin persahabatan kita akur kayak dulu lagi.”
“iya aku akan mulai merubahnya,”
Selang beberapa minggu, kini aku mulai akrab kembali dengan
sahabat-sahabatku. Dan kebahagiaan itu pun lebih berharga dibanding
kebahagiaanku bersama kekasihku.
“by.. nanti aku boleh nitip sesuatu nggak..??”
“nitip apa..?? buat siapa..?? buat aku yaaa...??!! ahahha”
“bukan buat kamu kok.. GR badaii dechhh.. ya buat Dian lah buat siapa
lagi.. kamu kan sekelas sama dia.. please yahh please,,, Feby baik dech..”
rayuku
“iya.. iyaa. .. mana titipannya serta salamnya entar aku salamin special
dehh..” aku pergi kedalam kelas untuk mengambil titipan untuk kekasihku Dian.
Minggu berlalu... malam berganti.. waktu berdetikk... Aku mulai cemburu
dengan semua perilaku Feby dengan Dian. Walaupun Cuma sebatas teman tapi kalau
kalian jadi aku, pasti kalian cemburu juga kan.?? Maka dari itu, saat aku
melihat kedekatan keduanya aku mulai cemburu. Dan aku beranikan diri untuk
bercanda dengan Feby. Intinya sih buat ngasih peringatan.
“feb... ehmm tadi dikelas dia ngapain aja,,?”
“nggak ngapa-ngapain dia Cuma bercanda sama aku ma Ririn.. dia itu asik
banget kalau diajak bercanda. Tapi kalau soal pelajaran dia itu bikin orang bed
mood tingkat raja dehh...”
“owhh.. enaknya yahh.. seandainya aku sekelas sama dia,,, hembb kayaknya
seneng banget nihh”
“siapa juga yang seneng biasa aja tuh.”
Mulai sejak itu, aku melihat keakrabannya pun mulai dekat. Batas
kesabaranku mulai hilang akhirnya aku larang Dian untuk terlalu dekat sama
Feby. Istilahnya sih jaga jarak 5 meter gitu..
Aku tak tau kenapa akhir-akhir ini, Feby berusah menghindar dariku. Aku
juga nggak tau apa salah ku.. atau pura-pura nggak tau yahh..??setiap aku
bertanya, setiap aku mendekat,, dia selalu membalasnya dengan wajah juteknya
sama tingkahnya yang acuh tak acuh. Aku pun muliai menelusuri (bukan menelusuri
di mbah google hlo sobatt) mengapa tingkahnya begitu aneh, apa yang salah
denganku.??
Kabar punya kabar, ternyata Feby mulai menjauhiku karena aku menyuruh Dian
untuk tak lagi dekat dengannya. Maka nggak salah kalau dia marah sama aku..
tapii harusnya dia sadar kalau aku juga manusia, aku juga bisa cemburu. Karena
omonganku yang membuat hatinya sakit dan perasaannya tersinggung, dia mulai
menjauhiku. Saat teman-temanku tahu tentang permasalahan ini, serentak mereka
semua menjauhiku.. kata lainnya sihh mengucilkanku. Untungnya masih ada teman
yang mau berteman denganku. Dan dia pun juga tak begitu dekat dengan Dian. Saat
aku makan sendirian di kantin sekolah. Feby cs datang, aku hanya diam sambil
menyantap semangkok bakso panas yang pastilah nikmat dihadapanku (jangan pengen
yahh temen-temen.. kalau mau beli ajahh).
Mbbraakk...!!! mendengar suara itu, membuat aku kaget, sampai aku hampir
saja tersedak.
“temen-temen aku kasih tau yahh.. aku tuh sadar, aku Cuma orang miskin..
dia orang kaya.. aku sadar aku Cuma orang jelek dia cantikk,, tapi kenapa yahh
dia merasa tersaingi pdahal aku lebihh rendah dari dia dan dia pun lebihh waoow
dari aku, kenpa yahh..”
Sindiran yang disertai kata-kata kotor yang tak sopan didengar saat sedang
makan itupun membuat aku tak enak makan.
Dan aku lebih baik mengalah, hanya diam dan berlalu dari tempat aku makan tadi
(untungnya baksonya udah abis, mubazir kan kalau belum abis udah ditinggal
duluan..).
Setiap hari hanyalah kata-kata kotor yang aku dengar dari mereka. 1 kali 2
kali, masih aku sabar-sabari.. tapii lama-kelamaan tingkah mereka semakin
membuat aku sakit hati. Aku tak mengira bahwa masalahku yang kecil itu bisa
jadi masalah yang luar biasa bikin orang malas hidup.
Pusing, capek smuanya jadi satu.. sambil istirahat didepan tv aku
menerima telfon.. tak lain itu dari
teman-temanku..
“fii.. kenapa sih harus kita yang megalahh...?? daridulu kenapa harus kita
yang ngaalahhh..!!!”
“ngalah gimana sih ..?? perasaan aku dah ngalah banyak sama kalian tapi kalian
nggak bisa ngertiin aku.. kalian nggak bisa mencerna omonganku dengan baik..”
“kita ingin kita itu temenan lagi tanpa ada masalah.. masalah emang selalu
ada tapi ayo kita selesaiin...”
“ya udah.. aku nurut sama kalian terus sekarang aku harus gimana..?”
“udah deh sekarang kamu deket sma kita lagi aja...”
“tapi apa bisa Feby terima sama semua ini..?”
“dia pasti bisa kok.. udah deh aku nggak mau kita ada masalah lagi..”
Aku kira, omongan itu bisa dipertanggung jawabkan.. namun apa.. saat aku
mendekatinya malah yang ada aku mendapatkan sindiran, dan lagi-lagi perkataan
kotor yang aku dengar. Maka dari itu aku lebih baik tak mendekatinya lagi.
Malam harinya aku berfikir, saat Ririn punya masalah yang hampir sama kayak
masalahku ini, malah lebih parah.. tapi kenapa dia nggak sampai kayk gini malah
didukung sama temen-temenku.. sedangkan aku maslah kecil saja dibesar-besarin
malah masalah lama di omong-omongin lagi.. haduhh pusingg mendingan tidur aja
dehh..
Paginya, aku lakukan kegiatan pagiku sebelum sekolah sperti biasanya. Namun
entah mengapa kakiku berat sekali untuk melangakah meninggalkan rumah. Rasanya
males banget ketemu sama temen-temenku itu. Tapi gimana lagi mau izin sakit ya
nggak bisa ya udah lah terpaksa aku harus jalanin semuannya.
Di kelas lagi pada serius ngerjain tugas, karena gurunya nggak ada jadi
dapet tugas. Tapi aku malah bertingkah sebaliknya, aku bad mood banget
sampai-sampai tugasku satupun belum ada yang aku kerjakan. Ini semua gara-gara
problem yang nggak kunjung finish tapii malah start terus. Huftt.. daripada
nganggur mending aku tulis bait demi bait curahan isi perasaanku saat itu. Tak
aku sadari coret demi coretan yang aku rangkai menjadi sebuah puisi yang
mencereitakan tentang persahabatanku.
Sahabat hanyalah nama..
Sahabat hanyalah sebutan...
Bagiku
temanku adalah sahabatku
Dan
sahabatku hanyalah temanku....
Mereka datang
saat mereka butuh...
Mereka berlalu
saat kebahagiaan muncul..
Semua
kenangan tinggallah cerita
Semua
senyuman tinggallah luka...
Sindiran yang kalian lantunkan..
Begitu indah untuk mu..
Begitu sakiit untuk ku..
Kini
aku hanyalah sebutir debu..
Yang
hilang tertiup angin..
Sendiri,
menangis ketakutann..
Tanpa
uluran tangan sahabatku..
Aku menangis mereka tertawa
Aku tersenyum mereka membenci..
Aku sakit mereka bahagia..
Apa itukah arti sahabat yang sebenarnya..??
Aku tau, ini semua berawal dari perkataanku.. namun jika mereka memang
sahabatku, seharusnya mereka menerima permintaan maafku. Bukan malah menolak
permintaan maafku secara kasar. Aku lebih baik mempunyai 1 teman, yang menerima
kelebihan dan kekuranganku. Aku lebih baik menerima 1 teman yang menegerti
posisiku.. aku lebih baik diam untuk teman yang suka menyindirku. Semua
permasalahan itu pun hanya aku ambil sisi positif dan hikmahnya.. intinya bahwa
aku harus jaga setiap omongan dan perkataanku agar tak menyakiti hati orang
lain.
Saat masalahku begitu banyak dan rumit. Tak ada satupun teman smsku yang
menanyakannya, termasuk Dian. Sudah seminggu ini dia tak mengabariku. Itu
membuatku curiga dan kuatir.. apakah dia baik-baik saja..??
Klingg.. klingg... dering penanda pesanku berbunyi. Saat aku kira itu dari
Oky atau Dian ternyata perkiraanku salah. Terkejutnya aku saat aku membaca nama
di pesan itu. Ternyata dia Riko orang yang dulu benar-benar aku sayang. Tapi
mengapa dia datang disaat aku menjalin hubungan yang rumit. Aku pun senang bisa
smsan sama Riko malahan pesan Oky dan Dian tak aku hiraukan lagi. Riko sekarang
sudah meneruskan kuliahnya di jurusan ekonomi. Aku pun senang mendengar itu. Pasti
kalian mengira aku adalah “playgirl” tapi sebenarnya aku tak seperti yang
kalian kira.
Kecurigaanku yang aku pendam berhari-hari kini telah terjawab. Dan
kekuatiranku kini sudah tak pantas aku rasakan. Sakit hati ini saat mendengar Dian
dikabarkan sedang dekat dengantemanku sendiri. Aku pun marah besar, aku merasa
hati ini hancur berkeping-keping entah apakah itu hukum alam atau karma aku
nggak tau yang jelas saat itu aku mengakhiri hubunganku dengan Dian. Awalnya
Dian tak mau memutuskan ku tapi setelah aku jujur dengannya akhirnya dia mulai
meninggalkanku dan melupakanku lewat kisahnya dengan temanku sendiri.
Mungkin kurelakan.. untuk kau tinggalkan.. diriku disini
harus mengakhiri.. aku yang merasa lelah kan menyerah.. karena tak selamanya
selingkuh itu indah...
Kejadiaan itu tak akan aku lupakan. Disaat teman-temanku pergi dan
kekasihku mengkhianatiku. Seakan tak ingin hidup seakan ingin lari dari masalah
yang kuhadapi. Namun apakah itu mungkin.?
Hikmah yang aku dapat saat itu adalah.. jangan pernah menyakiti hati orang
lain jika tak ingin disakiti... kejadian itu sangat cukup bagiku dan terakhir
kali untukku dalam hidupku. Tak perlu dua cinta namun cukup 1 cinta.. jangan
menduakan bila tak ingin di duakan...
Minggu ini, aku puaskan waktu luangku untuk menenangkan diri. Tapi saat aku
terdiam, ponselku berdering “klingg klingg” tanda pesan itu membuat aku segera
mengambil ponselku. Pesan itu berisi
Menangis aku kenang saat hatiku kau tinggalkan, hnaya
sakit yang aku pendam dalam rindu yang semakin dalam.. tak tau harus dimana ku temukan jawabnya..
Kau pujaanku dimana.. ku sakit harus menunggu lama..
merana hati merana dalam rindu aku bertanya....
Aku tersenyum, membaca pesan itu yang tak lain dari Oky. Ternyata dia tak
melupakanku. Dia masih mengingatku. Akhirnya aku habiskan mingguku bersamanya.
Walaupun hanya lewat pesan.
Disekolah, aku selesaikan kegiatanku seperti biasanya. Pulang sekolah aku
melihat foto yang telah usang dan nggak begitu jelas. Maklum foto
kenang-kenangan waktu masih SD. Walau usang, masih aku kenal betul salah satu
temanku yang duduk didekatku. Dia adalah Reno, teman dekatku dulu. Akupun
penasaran kemana kini dia berada.. tiba-tiba aku mulai merindukannya. Dia
adalah orang yang mengajarkanku tentang persahabatan. Memang dia cowok tapi
persahabatan tak mengenal gender. Iya kan..?? cewek cowok sama-sama bisa
dijadiin sahabat. Reno juga pernah menyelamatkanku dari kecelakaan yang mungkin
tanpa dia aku tak akan hidup sampai saat ini. Tanpa dia saat itu aku tak akan
mengenal Oky. Bagiku dia sangat baik, cerdas, dan sangat menjaga perasaan orang
ain. Pokoknya dia perfect banget. Tapi sayangnya saat itu aku masih belum tau
yang namanya percintaan maka dariitu kedekatanku dengannya tak menimbulkan rasa
dag dig dug. Tapi entah jika saat ini aku dihadapannya. Apakah rasa dag dig dug
itu akan muncul..??
Lama aku tak menerima pesan dari Oky. Pulang sekolah, saat aku mulai
menanyakan kemana Oky saat ini... aku lihat sudah banyak pesan menantiku. Saat
pesan pertama, tak ku sangka dari Oky aku baca isinya....
Aku tertipu kehilanganmu yang ku anggap semuanya
baik-baik saja...
Ku tak menyangka dibelakang mu.. kau tigakan cintamu yang
hanya kepadaku.
Aku bingung, kenapa dia mengirim pesan itu kepadaku. Apakah dia tau apa
yang sudah terjadi..??? setelah aku tanyakan beberapa kali kepadanya, ternyata
dia tahu semua ini dari temenku Ririn. Ternyata dia juga kenal Oky dari
facebook. Apa sih yang mereka inginkan..?? sampai-sampai mereka menghancurkan
segalanya. Menghancurkan rencanaku. Mereka senang saat aku sedihh.. aku tak
suka dengan semua ini. Saat semua itu terfikir di otakku, pesan masuk dari Oky
aku baca isinya..
Alasannya sering kali ku dengar
Alasannya sering kali kau ucap
Kau dengannya seakan ku tak tau
Sandiwara apa yang telah kau lakukan.. kepadaku..
Jujurlah
sayang,, aku tak mengapa..
Biar
semua jelas tlah berbeda..
Jika
nanti aku yang harus pergi.. kuterima walau sakit hati..
Air mataku tak bisa ku bendung lagi. Setetes demi setetes air mata itu
membasahi pipiku. Dan aku pun membalas pesannya
Maafkan ku menduakanmu mencintai dia, dibelakang kamu,,,
Salahkah semua tingkahku yang keterlaluan menyakiti kamu.
Ku tak bisa menahan rasaku, saat kau jauh dariku tak bisa hidup tanpa cinta..
Maafkanlah ku melukis luka, membuatmu bersedih mengundang
air mata. Cinta tak mengapa kau marah tapi 1 ku pinta jangankau usaikan kita..
maafkan aku.
“semua yang terjadi hari ini tak mungkinnnn...!!!!!!!!!!!!!!! aku tak
percaya dengan semua ini. Semua mustahil...!!!! Okyy maafkan aku telah
menyakitimuu maafkan aku.”
Dengan tangis yang tak kunjung
reda aku membalas pesan Oky. Oky pun berusaha menutupi amarah dan sakit hati
yang dirasakannya. Malah dia mencoba menghiburku dan menceritakan kisah ku
dengan seseorang yang lebih sempurna daripada dia.
Bila nanti kita berpisah
jangan kau lupakan kenangan yang indah kisah kita
jika memang kau tak tercipta untuk ku miliki
cobalah mengerti yang terjadi
Bila mungkin memang tak bisa
jangan pernah coba memaksa tuk tetap bertahan di tengah kepedihan
jadikan ini perpisahan yang termanis yang indah dalam hidupmu
sepanjang Waktu semua berakhir tanpa dendam dalam hati
maafkan semua salahku yang mungkin menyakitimu
semoga kelakkan kau temukan
kekasih sejati yang kan menyayangi lebih dariku
Setelah semuanya berakhir aku
mulai menyadari cinta itu harus saling memahami,
cinta itu harus saling mengerti, jangan lari dan meninggalkan cinta hanya
karena ego yang kita punya. Berfikirlah
sebelum bertindak. Ternyata itulah hikmah cinta yang aku dapat.
***
Lama aku jauhi cinta. Sakit yang
membekas tak kunjung hilang. Kejadian 5 bulan lalu membuat ku trauma dalam hal
cinta. Aku lebih senang menyendiri disaat aku teringat dengan kisah ku. Tapi
disaat aku ingin melupakannya aku senang berkumpul dengan teman-temanku.
“ Nis,, nanti kita bisa main
nggak..?? aku bosen dirumah sendirian..!!??”
“iya,, bisa aja kok.. mau maen
kemana..??”
“kemana aja boleh yang penting
jangan dirumah. Nanti kita main ke malioboro aja, besok kan minggu. Kita
happy-happy disana aja.”
“kalo gitu oke dechh...”
Malam ini aku bersenang-senang di
malioboro. Saat aku sedang membeli es krim, tak sengaja aku menepuk bahu
seseorang yang aku kira dia yang berjualan es krim.
“bang.. beli es krim magnum gold 2 yah bang...!!!”
Lelaki itu hanya terdiam dan saat lelaki itu menengok ke
belakang ternyata...
“Afii.....”
“haaaaaa..... kka kaamuu
Riko...??? kamu bener Riko kan..??”
“ihh kok masih ingat aja sihh..??
eh kabarnya kamu udah end sama Oky temenku..??”
“terus gue harus traktirr end
bilang waooow gituuu..???”
“aehhehehh... lebay amat adik ku
ini.. ya enggak gitu tapii kamu tau nggak keadaan Oky saat ini..??”
“ emangnya Oky kenapa..??? apa
dia udah punya pacar baru lagii..?”
“kok gitu sih ..?? dia itu masih
sayang sama kamu.. dia masih harapin kamu.. tapi dia udah nggak pernah sms kamu
karena sakit yang dideritanya memaksa dia dirawat dirumah sakit.”
“apaaa..?? dia masuk rumah
sakitt..?? dia sakit apa..??”
“dia sakit liver, dia juga susah
makan. Sebaiknya kamu jenguk dia dan hilangin semua kebencian mu ma dia.. dia
masih harapin cinta kamu..”
Tiba-tiba Nissa teman ku datang
memutus percakapan ku dengan Riko.
“ehh kaliian malah ngobrol disini
sihh.??? Dari tadii es krimnya aku tunggu malah belum di beliin... hembbb Afiii
ngobrol apaan sih ama dia..?”
“maaf Niss,, kenalin ini Riko
kakak kelas ku dulu sewaktu aku masih SMP.”
“owhh,, ya udah monggo dilanjut
lagii aku nggak bermaksud mau mengganggu pembicaraan kalian kok.”
Nissa pergi meninggalkan aku dan
Riko dengan membawa es krim magnum kesukaannya. Baru aku ketahui bahwa Nissa
nggak sendirian, dia bersama temannya atau pacarnya aku juga nggak tau, yang
pasti saat ini aku panik dengan keadaan Oky.
Paginya aku bangun terlalu siang.
Aku langsung bergegas mandi dan mencari ponselku. Aku menelfon Riko untuk
bertemu di suatu tempat lalu pergi ke Rumah Sakit untuk mengunjungi Oky. Disana
aku melihat Oky yang sudah tak berdaya lagi, wajahnya pucat, tak segemuk yang
aku tahu dulu. Disanalah aku menahan isak tangis ku berusaha membuat Oky senang
dengan kedatanganku.
Saat ku buka pintu kamar pasien,
aku berusaha menyembunyikan kesedihanku, namun saat aku mulai mendekatinya dia
langsung bertanya
“siapa pacar mu saat ini,.??
Pasti lebih sempurna dibanding aku. Hahahha,, pasti gampang cari cowok selain
aku, secara pacaran sekali aja gandeng 3 cowok.”
“Oky.. aku jujur aku masih sayang
kamu.. aku minta maaf waktu itu aku hanya menuruti ego ku saja. Oky aku minta
maaf...”
“kamu tak perlu minta maaf..
sudah sewajarnya orang seperti aku kau jauhi
karena aku hanyalah orang penyakitan... ahhahha mustahil jika ada yang
mau dengan ku.”
“jangan ngomong kayak gitu,, aku
sudah menyadari semuanya dan aku baru tau bahwa yang aku inginkan hanyalah
kamu... kamu hanya untuku”
Saat itu pun suasana menjadi
hening. Dan Oky pun hanya terdiam. Saat itu juga aku memecah suasana keheningan
tersebut dengan menyanyikan sepatah lagu...
Dengar laraku.. suara hati ini
memanggil namamu karena separuh aku dirimuu.... Oky..
Saat itu juga Oky tersenyum manis
kepadaku, dia bilang bahwa dia akan selalu mengingatku sebagai bidadari
kecilnya. Aku pun membalas senyumnya dengan senyum penuh kasih sayang.
Setiap hari setiap pulang sekolah
aku usahakan untuk menjenguk dan menemani Oky di Rumah sakit, setiap saat aku
juga sering menyanyikan lagu untuknya..
Dengarlah bintang hatiku, aku
akan menjagamu.. dalam hidup dan matiku, hanya kaulah yang kutujuu,, dan
teringat janjiku padamu suatu hari pasti akan ku tepati.. aku akan menjagamu
semampu dan sebisa ku walau kutau raga mu tak utuh.. ku trima kekuranganmu dan
ku tak akan mengeluh karena ku tau engkau lah nyawaku.
Orang tuanya sudah tak memikirkannya lagi. Aku
pun juga tak tau dimana orang tuanya kini berada. Rasa prihatinku dengannya
sangat-sangat dalam. Sampai-sampai aku bermalam di Rumah sakit. Aku selalu
berusaha untuk memotivasi dan memberi dia semangat agar segera sembuh. Itu mengingatkan aku saat dulu
ia menyemangatiku sampai aku lulus dengan hasil yang memuaskan, bagiku itu
adalah hal yang sepele tapi wajib diingat.
Paginya aku mendapat kabar dari
dokter bahwa Oky sedang kritis dan kini dia dirawat di UGD. Hal itu membuatku
kaget bercampur sedih. Dokter juga mengatakan bahwa bukan hanya Liver yang Oky
derita. Menurut dokter, dia juga mngidap penyakit Jantung. Dokter pun sudah
mengfonisnya bahwa hidupnya hanya bertahan 6 bulan kedepan. Mendengar kabar tak
menggembirakan tersebut kakiku serasa tak kuat lagi menopang berat badanku..
mataku tak sanggup lagi melihat keadaan sekitar dengan jelas. Aku menuju kamar
pasien dengan langkah kecil tanpa membawa sedikit harapan, aku lihat dari celah
pintu Oky terbaring di ruang UGD. Semangatku layu, kini aku tak tahu harus
bagaimana lagi. Penyesalan yang aku rasakan begitu terasa jika aku mengingat
kejaadianku pada waktu lampau. Saat aku menduakannya, saat aku tak
memperdulikannya, saat aku membohonginya, dan saat aku tak bersyukur bisa
bersamanya. Kini dia terbaring lemah, hanya harapan semu yang aku fikirkan. 1
harapanku kepada Tuhan adalah ‘izinkan dia hidup lebih lama, untuk membalas
kesalahan ku.. aku ingin bersenang-senang bersamanya.’
Malam ini aku tak bisa tidur, aku
beranikan diri untu masuk ke ruang UGD tanpa sepengetahuan dokter ataupun
perawat.
“aku minta maaf Oky. Aku
benar-benar belum merelakanmu pergi.. aku ingin melihat kau tertawa lepas.. aku
ingin melihat kau bahagia,,,”
Kalimat itu aku ucapkan didepannya
dengan menahan isak tangisku. Tiba-tiba keajaiban datang. Oky membuka matanya
dan dia hanya diam serta dalam raut wajah kebingungan.
“ke.. kenapa aku di ruang UGD..?”
“nggak kenapa-kenapa kok.. tenang
aja.. ini hanya mimpi...”
Paginya perawat memindahkan Oky
ke kamar pasien, karena keadaan Oky mulai membaik.
Pulang sekolah dengan bahagia,
aku bawakan bunga segar untuknya agar dia cepat sembuh. Aku taruh bungga itu
dimeja samping dekat tempat tidurnya. Aku tersenyum melihatnya, dia pun
membalas senyumku. Aku sering menceritakan hal-hal yang terjadi di hari itu.
Dokter memanggilku untuk
menemuinya diruang prakteknya. Aku lalu meninggalkan Oky dan menemui dokter.
Dokter mengingatkan tentang penyakit yang Oky derita. Dan dokter juga
menasehatiku supaya aku tak sering menyinggung perasaannya aku harus selalu
membuatnya senang. Karena hal itu, aku teringat oleh kata-kata dokter bahwa
hidupnya tak lama. Aku mengintip Oky di celah pintu. Dia terlihat senang
tersenyum memegang bunga dariku. Entah apa yang dia rasakan saat itu, akupun
tak tahu yang pastii senyumnya adalah senyumku.
Mulai saat itu aku hilangkan
segala fikiran negatifku dan aku berusah semaksimal mungkin memberinya semangat
untuk sembuh. Dokter mengakui bahwa hari-harinya semakin membaik dan semua itu
membuktikan bahwa fonis dokter tidak selalu benar. Buktinya 1 minggu lagi dia
sudah diizinkan untuk pulang. Karena dia tak mempunyai tempat tinggal dan tak
punya saudara mereka ikut denganku, supaya ada yang mengurusnya jika sakitnya
kambuh.
Waktu terus berlalu.. hari terus
berganti.. bulan terus berjalan. Kini aku fokuskan untuk mencari pekerjaan.
Sedangakn Oky sekarang sudah bekerja menjadi wirausaha yang cukup sukses. Dia
sekarang sembuh dan aku dengannya kini dekat kembali. Setelah perjuangan bertahan
hidup dengan obat-obatan kini dia bisa melakukan aktifitasnya seperti dulu. Aku
pun juga selalu mengingatkan dan memberinya semanagat supaya ia rutin melakukan
terapi pengobatan dan berolah raga.
Semua sudah semakin dewasa kami memutuskan
untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Kita
bertunangan pada tanggal kita jadian dulu. Banyak teman-temanku yang
bilang aku serasi dengannya. Itu membuatku semakin semangat untuk menjadikan ia
yang terakhir. Kita saling menerima perbedaan dan saling berkomunikasi agar
terhindar dari salah paham yang dulu membuat kita sakit hati.
Saat ini aku ditugaskan untuk
meeting keluar kota. Terpaksa aku harus meninggalkan Oky sendirian dirumah. Aku
terkejut saat rekan kerja yang aku temui tak lain adalah Dian. Orang yang dulu
pernah menjadi cinta keduaku. Orang yang dulu menyakitiku. Dengan profesional
aku menghilangkan kenangan itu, dan fokus untuk bekerjasama dengan kantornya
untuk pemasaran produk terbaru dari perusahaanku. Dan jika aku menyia-nyiakan
kesmpetan ini bisa-bisa perusahaanku mendapat kerugian yang begitu besar. Maka
dari itu aku menahan rasa sakitku dalam-dalam.
Akhirnya rapat selesai juga. Dan
Dian menyetujui untuk bekerjasama denganku. Saat aku pulang, ternyata Dian
menungguku di parkiran mobil. Aku hanya terdiam dan beralasan untuk segera
pulang ke hotel.
“hai.. kamu Afi kan..?”
“iya pak.. memangnya kenapa..?”
“sudahlah jangan panggil aku
pak.. kamu dulu kan orang yang pernah aku sayang,”
“itu semua hanya masa lalu, aku
bekerjasama dengan mu bukan untuk mendekatimu. Tapi demi perusahaanku.”
“oo.. apakahh benar itu semua..?
aku bisa memberimu keuntungan lebih di proyek ini. Asalkan kamu mau kembali
denganku.”
“maksudmu apa..?? maaf aku masih
punya kepentingan lain.”
“tenang sayangg.. aku akan
membenaskanmu... tapi ingat tawaranku tadi”
Aku langsung pergi
meninggalkannya. Dan saat aku pulang Oky menyambutku dengan bahagia. Walaupun
wajahnya pucat. Ternyata dia habis kambuh, tapi ia tak berani mengabariku.
Disela-sela kebahagiaanku dengan
Oky, aku menerima pesan dari nomor yang tak ku ketahui pemiliknya, isinya ....
Ingat tawaranku tadi.. jika kau tak memberi keputusan secepatnya, aku akan
batalkan perjanjian untuk bekerjasama denganmu.
Setelah aku membacanya, aku benar-benar bingung semuanya penting. Aku tak
bisa menanggung kerugian perusahaan jika aku gagal bekerjasama dengannya, namun
disisi lain aku tak akan menduakan Oky untuk yang kedua kalinnya. Aku tak ingin
masa laluku terulang.
Aku tolak tawaran Dian, dan itupun aku fikir benar-benar. Itulah jalan
terbaik. Seminggu setelah itu, aku dipecat dari perusahaan dan harus menanggung
kerugian perusahaan yg begitu banyak. Tak mungkin aku bisa membayarnya. Aku
beranikan diri untuk berkata jujur dengan Oky.
“maafin aku Oky, mungkin kabarku ini membuat kamu sedih.”
“memangnya ada apa to fii..?”
“aku di PHK dan aku harus mengganti kerugian sebanyak 75 juta”
“apa..?” nafasnya kini terasa sesak, penyakit jantungnyapun kambuh. Dengam
isak tangisku aku mencari obat untuk meredakan rasa sakitnya. Aku tak tahu
harus bagaimana lagi.. aku benar-benar lupa kalau Oky nggak boleh dapet berita
yang buat dia terlalu shock.
Rumah yang dulunya megah kini hanya kost-kostan kecil, yang tak terawat. Rumahku
aku jual untuk membayar kerugian di perusahaan dan sisanya aku tabung
sewaktu-waktu aku memerlukannya. Mengingat Oky mempunyai penyakit yang
sewaktu-waktu kambuh dan harus dibawa kerumah sakit. Kini aku bekerja
diperusahaan Oky. Memang takdir, dulu perusahaan Oky begitu tenar, tapi kini
hanya sedikit yang mau bekerjasama dengannya karena tersaingi oleh perusahaan
Dian.
Karena sudah lama kita tunangan dan lika-liku kehidupan dijalani
bersama-sama. Aku dan Oky memutuskan untuk menikah. kami benar-benar bahagia
saat mendapat restu dari orangtuaku. Aku tak sabar ingin mempercepat hari itu dan
menjalani kehidupan ini dengan Oky.
Semua telah siap. Undanganpun tinggal menunggu untuk disebar. Dan terlihat
raut wajah bahagia antara aku dan Oky, walaupun masih menghitung hari mereka
menikah tapi moment-moment itu sudah dirasakan oleh keduanya.
Afi hari ini begitu senang. Raut
wajahnya begitu ceria dengan membawa tas berisi undangan pernikahannya dia
pulang sendirian ke kampung halamanya. Sebenarnya Oky tak mengizinkannya Afi
pergi sendirian tapi Afi tak
mendengarkan pesan Oky calon suaminya.
Saat Oky sedang menonton berita
di televisi, dia terkejut dengan berita terkini yang mengabarkan bahwa kecelakaan
bus yang terjadi di jalan Raya Solo-Yogyakarta menelan korban yang cukup
banyak. Dan setelah Oky mendengar berita tersebut ia shockk dan langsung
menghubungi keluarga yang berada di Solo. Ternyata Afi ikut dalam kecelakakan
tersebut.
Paginya polisi mendatangi rumah
Oky.
Thookk.. thookk...
“iya..”
“maaf apa benar ini rumah bapak
Oky..?”
“iya benar, ada apaa ya pak..?”
“ini, kami telah membawa barang-barang
alm. Istri anda,”
“tidak... tidakk.. ini tak
mungkin terjadi..”
Lalu dia memberikan barang-barang yang
diantaranya ada tas calon istrinya yaitu Afi. Dia terkejut karena dihadapannya
saat ini adalah jenazah istrinya. Dia menangis dan memeluk jenazah istrinya
tersebut. Saat tas dibuka dia terkejut dengan undangan pernikahan mereka yanag
akan dirayakan 5 hari lagi. Dia menangis seakan semua itu mimpi. Dia tak
menyangka bahwa orang yang dia sayang lebih dulu meninggalkannya. Kebahagiannya
kini sirna, semua rancangan pernikahannya kini tinggalah bayangan.
Paginya semua saudara dan orang
tua termasuk Riko datang melayat dan ikut memakamkan jenazah Alm Afi. Semua menangis termasuk Oky, Oky pun
menuliskan sebuah catatan dan diletakkan didekat makam calon istrinya.
Dibawah batu nisan kini ku tlah
sandarkan kasih sayang kamu, begitu dalam sungguh ku tak sanggup ini terjadi
karena ku sangat cinta..
Inilah saat terakhirku melihat
kamu jatuh air mataku menangis pilu hanya mampu ucapkan.. selamat jalan kasiihh...
kini bidadari kebahagiaanya telah kembali ke
surga. Dan dia yakin Afi akan selalu mengingatnya di surga.
Ingatlah teman, kebahagiaan tidak
akan jauh dari kesedihan dan sebaliknya. Semua didunia ini tak ada yang abadi.
Manusia bukanlah orang yang sempurna, terkadang mereka bohong, terkadang mereka
jujur itu semua terjadi karena mereka sendiri yang merubahnya. Sebenarnya orang
lain tak bisa merubah sikap sifat kita, tapi melalui kasih sayang, orang itu
akan bangkit bangkit dan menjadi kuat dan bahkan lebih kuat karena niat,
keinginan mereka dan kasih sayang dari orang di sekitarnya.
Nama : AUDI NUERMEY HANAFI
T.T.L :
WONOGIRI, 27 MEI 1998
Alamat : GIRITONTRO
LOR, RT 01/01, WONOGIRI
Hobby :
MEMBACA, MENDENGAR MUSIK, MENCARI HAL BARU
Cita-cita : MEMBAHAGIAKAN ORTU DGN PRESTASIKU SENDIRI
Warna fav : UNGU, HIJAU APEL
Prinsip : MIMPIKU
ADALAH MASA DEPANKU...
Maka dari itu, mimpilah setinggi langit
asalkan itu positif, dan yakinlah jika kau bisa meraihnya. Dan jangan sesekali
kau mimpikan hal-hal yang negatif. Karena setiap mimpi setiap kata, itulah doa.