ads

Tuesday, January 1, 2013

Izinkan Aku Bahagia


IZINKAN AKU BAHAGIA
Entah harus darimana kisahku ini aku mulai. Sejak itu aku berumur 10 tahun, bisa dibilang kelas 4 SD. Namaku Audi, tapi dalam keluargaku, biasa dipanggil Irma. Aku dikenal sebagai anak yang pendiam, prestasi juga hanya rata-rata.
Malam ini, aku dipaksa ibuku untuk beranjak dari ruang keluarga dan bersegera ke kamar untuk tidur. Mengingat hari sudah larut malam, bukti jam menunjuk pukul 23.20 WIB. Raut wajah ibuku terlihat cemas bercampur marah. Didalam hatinya cemas memikirkan ayah yang sampai saat ini belum pulang sebenarnya setiap hari ayah selalu pulang malam, walaupun kantornya hanya sekitar 3 km dari rumah. Agar ibu tak memarahiku, aku berpura-pura menutup mataku dan seakan-akan tertidur lelap.
Thokk..!! thokk!! Suara ketukan pintu membuatku terkejut. Mungkin itu ayah. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, aku melihat keluar dan ternyata itu benar ayah. Tak sengaja aku mendengarkan percakapan kedua orang tuaku yang seharusnya anak sekecilku tak baik mendengarnya.
“Pak, dari mana jam segini baru pulang?.”
Ayahku hanya menjawab dengan santai. “Bisnis.”
Begitu banyak hal yang mereka bicarakan dengan nada yang kasar dan bahkan sesekali dengan hinaan dan caci maki. Sudah sering sekali mereka bertengkar akhir-akhir ini. Aku menangis mendengarkan itu semua. Aku tak menyangka, ayah begitu kasar kepada ibu, padahal ibu hanya bertanya dengan lemah lembut.
 Langkah yang terdengar semakin mendekat, memberikan isyarat bahwa ibu akan menghampiriku. Aku mulai mengusap air mataku dan memejamkannya. Didalam kamar ibuku menangis, dengan sesekali tangannya membereskan pakaian-pakaiannya lalu ditata serapi mungkin didalam koper. Karena tak kuat menahan isak tangisku, aku memberanikan diri untuk menanyakan sebab ibu menangis.
“Ibu,, kenapa ibu menangis?? Kenapa ibu beres-beres ?? Memangnya ibu mau kemana?.”
“Yang sabar ya nak,, jangan pernah kamu mencontoh hal yang  ibu lakukan ini ya nak..! kalau sudah besar, nggak boleh nangis, tapi ibu udah dewasa malah masih nangis.” Senyuman yang indah terurai manis bersamaan air mata yang membasahi pipinya.
“Ya sudah, ibu jangan nangis lagi. Lalu kenapa ibu menata baju ibu di dalam koper..? ibu mau pergi?.”
“Tidak nak, ibu tak akan pergi tanpa kamu. Tapi jikalau semua ini sudah takdir, kamu harus menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada. Ibu tak mau anak ibu satu-satunya yang cantik ini menangis.”
“Ibu,, sebenarnya apa yang terjadi?? Aku tak tau apa maksud semua ini?.”
“Sudalah nak, yang penting jaga pesan ibu baik-baik. Jadilah wanita yang tegar walau sesulit apapun cobaan yang kau hadapi. Hidupmu masih panjang nak, ibu tak ingin mengacaukan masa depanmu. Ibu ingin suatu saat nanti melihat kamu menjadi seorang wanita karir yang sukses. Bisakan kamu buktikan itu kepada ibu?.”
“Iya bu, o iyaa,, udah malem nih bu. Audi mau tidur dulu. Selamat tidur ibuku sayang.” Kecupan, tanda kasih sayang seorang anak kepada ibunya, yang ku berikan, mengakhiri percakapan malam itu.
‘hmmm,, laper banget nih,, ibu masak apa ya dirumah? Pasti enak deh capek-capek terus makan.’ Kataku dalam hati. Jalanku ku percepat saat rumahku sudah terlihat dari kejauhan. Penuh kegembiraan, aku mengetuk pintu, namun apa? Tak ada yang membukanya. Aku hanya menemukan selembar kertas yang berisi pesan-pesan dari ibuku. Intinya bahwa ibuku sedang tidak ada dirumah saat itu dan makanan sudah ibu siapkan diruang makan.
Saat akan berganti pakaian, aku mengambil pakaian harianku di almari. Betapa terkejutnya aku, semua pakaian ibuku tak ada, aku teringat malam hari ibu memindahkan pakaiannya didalam koper. Aku menangis memanggil-manggil ibu, tapi ibuku tak kunjung datang menenangkanku. Dan saat itu juga, tante ku, memberitahuku bahwa ibuku sedang di perjalanan hendak ke Malang. Aku kecewa, aku sedih, aku marah.!! Mengapa ibuku tak mengajakku..? mengapa ibuku tak izin kepadaku??.
 Tangisku reda saat setelah ayah pulang dari kantor. Ayah selalu memarahiku jikalau aku menangis. Karena menangis adalah tanda orang yang lemah dan menangis itu tak menyelesaikan masalah.
Selang beberapa minggu, ibuku datang dan aku menyambutnya dengan suka cita. Namun anehnya, mengapa ibu pulang menumpang truk? Kenapa tidak naik bus. Sambutanku ibu balas dengan pelukan, aku benar-benar senang melihat ibuku tersenyum. Pelukan itu terlepas, saat sopir truck itu memanggil ibuku. Semua barang-barang yang ibu miliki, dipindahkan ke atas truck. Hingga saat aku mendengar bahwa ibu mau pindah dan menetap di Malang.
“Nak, ibu tanya sama kamu dan kamu harus jawab dengan jujur. Kamu pilih ikut ibu, apa ikut ayah..?”
Dengan air mata yang terus-menerus keluar dari mataku, aku menjawab “Aku nggak pilih dua-duanya bu, aku pilih ibu tetap disini bersama aku dan ayah.”
“Ibu nggak bisa nak, ibu sudah tak tahan dengan cara ayahmu. Ibu ingin mencari kerjaan di Jakarta. Kamu ikut ibu ya nak??”
“Nggak bu, aku nggak bisa pilih salah satu, kalo aku pilih salah satu, kasian yang nggak aku pilih. Kalian berdua itu orang tuaku.”
Ayahku membenarkan perkataanku dan menyambungnya “Iya Ir, kamu memang benar, ibumu memang tak menyayangimu. Dia tak mungkin tega meninggalkanmu kalau dia menyanyangimu.”
Semua itu membuatku bingung. Ibuku selalu berkata berlawanan dengan ayahku. Aku tak mau memilih salah satu. Karena aku tak mau terpisah dari keduannya. Pertengkaran yang sering aku dengar setiap malam, saat ini terulang kembali malahan jelas dihadapanku.
“Kamu!! harusnya sadar sebagai orang tua harus mencontohkan yang benar kepada anakmu!! Bukan malah seenaknya sendiri. Uang darimu semuanya haram..!! semuannya hasil judimu..!!!” Ibuku melontarkan kata-kata itu dihadapanku.
“Kamu juga nggak bisa ngurus anak..!! bisanya cuma minta uang aja!! Apa kamu nggak kasihan dengan anakmu?” Aku tak tahan mendengar kata-kata itu, lalu aku memutus pembicaraan orang tuaku.
“Sudahhh..!!! Kenapa ibu dan ayah malah bertengkar dihadapanku..?? tak malukah kalian dengan ku? mengapa ibu dan ayah berbicara seperti itu? Aku nggak pengen liat ibu sama ayah bertengkar terus, aku pengen kayak teman-temanku. Aku iri sama teman-temanku. Mereka punya keluarga yang bahagia, dan penuh kasih sayang tapi aku?” Semua diam. Suasana menjadi hening. Selang beberapa detik, ibuku langsung bergegas melanjutkan memindahkan barang-barangnya ke dalam truck. Saat itu aku menangis sambil bersujud dikaki ibuku, aku minta maaf atas semua kesalahanku asalkan ibuku mau tinggal bersamaku dan ayah. Baru kali ini, aku melihat orang sekasar ayahku menangis. Dan semua orang yang melihat kejadian tersebut meneteskan air mata. Teriakku memanggil kata “ibu” terdengar saat ibu mulai melepaskan tanganku dari kakinya dan beranjak pergi meninggalkanku.
“Ibuuuu..!!!! tak kusangka ibu tega melihatku menangis..!! ibu tega meninggalkanku! Ibu benar-benar tak menyayangiku!! Semua tak ada yang menyayangiku..!! Salahkah aku, jika aku ingin mempunyai keluarga yang bahagia..? Semua jahat..!! semua tak adil”
Ibu tak kuasa menahan tangisnya, hatinya benar-benar sakit, sebenarnya ibu tak ingin meninggalkanku. Tapi karena ibu tak mau mengusik kehidupan ayahku ibu memutuskan untuk mengalah. Akhirnya ibu mengajakku masuk kedalam truk. Ibu bilang, aku akan diajak liburan selama 2 minggu di Malang, namun ternyata ibu membohongiku. Ibu mendatangi sekolahku. Ia bilang kepadaku ingin membuat surat izin. Aku bosan menunggu lama-lama didalam mobil, lalu aku  putuskan untuk turun, namun saat aku mendengar perbincangan kepala sekolah dengan ibuku, aku benar-benar tak percaya akan hal tersebut, bahwa intinya aku keluar dari sekolah tersebut alias pindah sekolah. Aku menangis sepanjang jalan, namun bagaimana lagi? Aku tak bisa kembali pulang kerumah. Karna sudah setengah perjalanan. Sepanjang perjalanan, aku hanya termenung. Aku hanya memikirkan ayahku, aku menyanyanginya, sangat menyayanginya. Aku menyesal ikut bersama ibuku. Ibuku tega memisahkan aku dengan nenek, ayahku dan sahabat-sahabatku.
Memang nasib, sesampainya di Jakarta, ternyata lowongan pekerjaan yang ditawarkan teman ibuku sudah ada yang memakai. Kini ibu tak tahu harus kerja dimana lagi. Hingga suatu ketika ibu ditawarkan untuk menjadi TKW ke Singapura. Aku tak mau ibu meninggalkanku, apa gunanya aku ikut dengan ibu kalau ibu meninggalkanku? Namun karena keterbatasan biaya, ibu dengan ikhlas dan lapang dada mendaftarkan diri menjadi TKW.
Selama di BLK, penjagaannya sangat ketat dan tertib. Sudah banyak orang-orang yang mencoba melarikan diri, dan ada juga yang bunuh diri. Semua itu tak lain karena mereka di jauhkan dari sanak saudara mereka. Setiap orang menjenguk hanya diwajibkan tak lebih dari 5 jam. Hari ini aku sangat senang, karena aku sudah membawakan ibu makanan untuk dimakan bersama. Sebenarnya makanan itu hanya tempe goreng dan naget, tapi karena makan dengan orang yang paling aku sayang, jadi semua itu terasa nikmat. Tak sengaja, tanganku terkena pisau saat hendak membuka saos. Darahku bercucuran, aku menangis tapi ibu dengan sabar membersihkan darahku, lalu membelikan plaster. Padahal semua disana serba mahal. Saat itulah, aku tahu bahwa ibu sangat menyayangiku. Sampai sekarang plaster itu masih aku simpan.
Selama menumpang dirumah tanteku, aku selalu mendapat kritikan dari tanteku. Disana aku sama sekali tak menjumpai kebahagiaanku. Malahan benar-benar tak ada kata senang. Aku merasa aku sudah disamakan dengan pembantu. Disuruh ini itu, sampai-sampai aku sakit.
“Jangan cuma nonton tv terus! Cepat  cuci baju sana! Sekalian baju-bajuku juga! Setelah itu masak buat makan sore.” Baru saja aku istirahat, tapi aku sudah disuruh-suruh lagi.
“Tapi budhe, kasih waktu Audi buat istirahat, Audi capek budhe.”
“Kalau kamu nggak bisa nurut, udah nggak usah tinggal disini. Kalau nggak karna aku kasihan dengan ibumu, aku tak akan mau mengurusmu. Pekerjaanku juga menumpuk.”
“Ya sudah budhe, kalau boleh, lebih baik aku pindah. Aku mau ikut ayah! biar budhe nggak perlu repot-repot mengurusku.”
“Ayahmu harus membawa uang 10jt, baru kamu boleh pulang bersama ayahmu.”
Aku tak tahu. Apa yang dimaksudkan uang 10 juta? Aku kan anak kandung ayah. Mengapa ayah harus menebusku dengan harga mahal? Aku tak menyangka tante ku sekejam itu.
Lama-kelamaan aku tak tahan dengan tingkah tanteku, akhirnya aku memutuskan untuk kembali ikut ayah. walaupun dengan susah payah ayah menebusku dengan uang 10 juta. Dan dengan perjuangan serta doa orang-orang yang menyayangi ibu, Ibu lulus tes, dan segera diberangkatkan ke Singapura.
Selama aku tinggal bersama ayahku. Semua kebutuhanku tercukupi. Namun, kebahagiaan belum sepenuhnya memihakku. Setiap ibuku berkunjung kemari untuk menemuiku, selalu saja menjadi masalah dan semua selalu memihak ayah. Padahal setiap kesalahan selalu ayah yang membuatnya. Mengapa semua tak mau menyadari itu? Mengapa aku dibedakan dari cucu-cucu nenek yang lainnya? Mengapa aku dan ibuku selalu dibenci? Bukanlah jawaban yang tepat yang aku dapat namun hanyalah beribu-ribu alasan yang kudapat, jika aku tanyakan hal tersebut.








Audi Nuermey Hanafi
J

No comments:

Post a Comment